Home / POLITIK / Garbi, Ujian PKS Di Siklus 5 Tahunan
Logo GARBI

Garbi, Ujian PKS Di Siklus 5 Tahunan

Jakarta, Kopdarnews.com-Setiap kali menjelang Pemilu, PKS dirundung persoalan internal. Dan ini selalu berulang momennya, dengan kasus dan modus operandi yang beragam. Dari pemilu 2009, kala mendeklarasikan sebagai partai terbuka, setelah PKS mendapat suara signifikan dalam Pemilu 2004 dengan perolehan sebanyak 8.325.020 suara dan 45 kursi DPR RI. Aura kemenangan pun berlanjut pada pemilu 2009, PKS menjadi partai 4 besar nasional dengan perolehan suara sebanyak 8.206.955 suara (7,88%) dan menyabet 59 kursi DPR RI. Lalu, pada pemilu 2014, 8.480.204 suara dan hanya memperoleh jumlah kursi DPR sebanyak 40 kursi.

Dan disetiap masa menjelang pemilu, PKS selalu dirundung persoalan. Dari munculnya ketidakpuasan atas keputusan menjadi partai terbuka pada 2008, banyak kader senior PKS yang membentuk forum kader peduli karena ingin kembali kepada keaslian dakwah yang dijalankan. Konsekuensi sebagai partai terbuka di Munas Sanur Bali 2008, banyak kader senior yang tidak masuk dalam struktur partai, menyuarakan pentingnya kembali pada asholah dakwah, banyak kajian-kajian yang diadakan di masjid-masjid dan bahkan beberapa kader senior membeberkan borok pemimpin partai saat itu.

Setelah dirundung isu tersebut, suara PKS kian meninggi pada Pemilu 2009, dengan menempatkan diri sebagai partai terbesar keempat nasional. Ini menandakan bahwa sebagai partai berbasis kader, PKS tidak mudah digembosi oleh berbagai isu, walaupun dari sisi eksternal banyak isu yang dihembuskan oleh eksternal atau lawan politik seperti anti maulid, Islam garis keras dan lainnya. Semua itu tidak menyebabkan suara PKS menurun. Karena konflik interal kali ini tidak banyak diendus oleh media dan tidak mengakibatkan perseturuan antar kader yang membuat gaduh kondisi internal partai secar signifikan.

Namun, pada 2014, tren kemenangan itu menurun, PKS kehilangan banyak kursi di DPR RI dengan kasus Sapi dan korupsi. Agaknya isu ini juga jadi bagian dari upaya pelemahan PKS dari luar. Kasus Sapi dan korupsi mengakibatkan suara PKS turun dan menjadi partai kelas menengah dengan perolehan kurisi 40 dari 56 kursi di pemilu 2009 lalu. Hal ini menandakan bahwa setiap jelang pemilu, PKS selalu dirundung persoalan, baik eksternal atau pun internal. Namun, kedua kasus jelang pemilu tersebut, kasus korupsi dan sapi merupakan kasus yang sangat kuat menghantam PKS dan mengakibatkan banyak kehilangan kursi. Hal ini menandakan bahwa kepercayaan masyarakat adalah hal yang mahal, padahal kasus tersebut juga bagian penting dari upaya pelemahan PKS dari luar.

Nah, pada 2019 ini, tepat menjelang pemilu, PKS kembali dirundung masalah internal dengan munculnya Gerakan Arah Baru Indonesia (Garbi) yang diinisiasi oleh Mantan Presiden PKS, Anis Matta. Gerakan ini agaknya cukup  ‘sukses’ membawa banyak gerbong dari kader internal PKS yang tidak lagi menjaabat sebagai struktur, dan saking massifnya gerakan ini, banyak juga kader PKS yang menjadi caleg dan yang masih aktif di struktur kepengurusan tingkat daerah ikut mundur secara berjamaah. Kasus di Banyumas dan Bali cukup membuka mata eksternal PKS, ada apa dengan PKS?

Namun, sebagian besar kader PKS menggangp bahwa fenomena ini adalah bagian penting dari upaya pendewasaan PKS dalam mengelola banyak faksi di internal secara dewasa dan lebih baik.

Banyak kader yang keluar dan hengkang ke Garbi, tak membuat gentar dan nyali kader dan pengurus PKS untuk semakin solid bertekad memenangkan pemilu 2019 mendatang. Tak salah jika Garbi dimaknai sebagai siklus ujian PKS lima tahunan yang rutin datang setiap kali jelang pemilu. Walaupun banyak terungkap kekecawaan mereka yang pindah ke Garbi atas PKS, namun tak membuat soliditas kader PKS gentar dengan atraksi demikian.

Bahkan, dalam salah satu pernyataannya di publik, Presiden PKS Sohibul Iman berpendapat bahwa dirinya tidak mempersoalkan kepergian kader PKS. Sohibul hanya meminta kader yang memilih keluar tak membuat kegaduhan. “Tapi tolong, kalau sudah tidak betah, jangan sampai membuat kegaduhan. Kalau niat baik, jangan gaduh. Kita kan juga tidak memaksa,” tuturnya seperti yang dilansir sebuah media online belum lama ini.

Walaupun banyak analis menyatakan suara PKS akan turun dan tidak akan lolos electoral threshold di bawah 4%, namun anggapan ini menjadi lecutan bagi kader-kader PKS untuk tetap maksimal dalam upaya memenangkan pemilu 2019 mendatang. “Karena kepercayaan dan simpati publik pada PKS kian besar, kami yang di daerah terus memompa semangat untuk semakin intens bergerak menghadirkan kemenangan demi menyempurnakan khidmat untuk rakyat dan menjadikan Indonesia lebih baik,” kata Aji Suryo, salah satu Kader PKS yang juga Anggota DPRD Kota Pekalongan.

Kini, setelah berganti kepengurusan ke Sohibul Iman dan Habib Salim, kedekatan PKS dengan ummat Islam kian mesra dan PKS semakin menunjukkan keberpihakannya pada Ummat Islam. Kita semua berharap sikap PKS yang konsisten bersama Ummat Islam Indonesia menjadi energi besar untuk menjemput kemenangan ummat Islam pada 2019 mendatang.

Lalu, apakah siklus 5 tahunan adalah upaya terselubung untuk menghempaskan PKS dari percaturan politik nasional? Mengapa selalu berulang dengan modus dan gerakannya yang beraneka ragam? Dan, siapa Garbi itu? Banyak kader-kader potensial dan matang banyak bergabung didalamnya, justru menjelang pemilu 2019. Apakah Garbi produk dari kuatnya tangan ‘the invisible hand’ di negeri ini yang ingin PKS hancur lebur? Kita tunggu saja faktanya, hanya waktu dan skenario Allah SWT serta keyakinan kuat kader PKS untuk menang bersama Ummat Islam, yang akan membuktikannya? Allahu musta’an. Wallahu ‘alam bis showab.

About fairuz -

Check Also

Anggota Komisi 1 DPR RI Sesalkan Pemerintah yang Diam Atas Aksi Brutal Israel di Gaza

Jakarta, Kopdarnews.-Israel kembali menodai bulan suci Ramadan bukan hanya membunuh warga Palestina di Gaza namun ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *