Home / POLITIK / Garbi, Antara Kampret dan Cebong

Garbi, Antara Kampret dan Cebong

Garbi, Antara Kampret dan Cebong

  • Fenomena Gerakan Arus Baru Indonesia (Garbi) yang diinisiasi oleh beberapa kader senior dan punggawa Partai Keadilan Sejahtera (PKS) telah membuat percaturan politik jelang pemilu 2019 kian panas dan bertensi tinggi.

Bagaimana tidak, gerakan yang diinisiasi oleh Anis Matta dan Kader PKS senior lainnya juga membuat pilihan politik anggotanya menjadi kian terfragmentasi dalam dua kubu yang saat ini tengah berkontestasi dalam pilpres 2019.

Bahkan, kedua kubu itu, kini punya julukan atau panggilan di media sosial dengan sebutan kampret untuk pendukung Prabowo-Sandi dan Cebong untuk pendukung Jokowi-Ma’ruf Amin pun kini sudah membuka tabirnya dihadapan kader-kader PKS yang masih konsisten menghadirkan politik santun dan bermartabat untuk kesejahteraan dan kebaikan rakyat.

Praktek politik yang pragmatis, dan sarat kepentingan memang tengah menjadi gambaran lumrah dan lazim menjangkiti politisi dan pegiat politik saat ini.

Namun, dengan hadirnya satu sempalan partai politik yang bermetamorfosa menjadi ormas dan membebaskan anggotanya untuk mendukung siapa saja yang diantara kedua kubu peserta pilpres 2019 mendatang secara aktif dan agresif, justru berlawanan dengan nalar publik yang kini sudah mulai sadar akan pentingnya politik identitas.

Dukungan ini kian terasa massif ketika kedua kubu tersebut sukses mengapitalisasi dukungan secara aktif dan massif untuk mensukseskan pilihan masing-masing.

Jelas terlihat apa yang dilakukan oleh Garbi setidaknya menimbulkan pertanyaan mendasar yang menjadi antitesa dari geliat kesadaran publik akan naiknya tensi politik identitas jelang pemilu 2019 mendatang.

Pertanyaan publik tentu akan mengarah dimana keberpihakan Garbi terhadap kepentingan ummat dan kebaikan bangsa dalam menghadapi sukses kepemimpinan nasional yang kini sudah didepan mata.

Proses suksesi ini pun kian menegangkan ketika politik identitas menjadi sebuah gerakan yang diinisiasi oleh ummat Islam karena kepentingannya tidak diakomodir secara baik, konsisten dan cenderung mendiskreditkan pihak-pihak yang selama ini kritis terhadap kinerja pemerintah.

Pola permainan politik dua kali ini pun kian menjadi tidak menarik ketika ghirah ummat dan anak bangsa semakin sadar akan pentingnya kehadiran agama dalam setiap sendi kehidupan bernegara dan berbangsa secara proporsional.

Fenomena politik dua kaki perlahan semakin ditinggalkan ummat Islam, selaku pemilik suara terbesar bangsa ini, karena kesadaran politik ummat Islam kini tengah mencapai kulminasi tertinggi dan diperkirakan akan semakin mengkristal pada 17 April 2019 mendatang.

Mensikapi fenomena Garbi yang berada di dua kaki, Cebong dan kampret, setidaknya membuat percaturan dan dinamika politik nasional kian menarik. Tetapi langkah Garbi setidaknya akan semakin sulit diterima rakyat ketika keputusan bermain di dua kaki menjadi political frame dari Garbi.

Karena hari ini, mereka yang bermain di dua kaki akan terlihat sikap mudzab zdabiina baina dzalika laaa ilaaaha ulaaaika walaaa ilaaaha ulaaika. Tidak di sini dan disana adalah karakter dari sikap nifak yang kini banyak dari komponen ummat Islam yang konsisten berupaya meninggalkan sifat dan sikap tersebut atau telah hijrah dalam satu pilihan politik yang tidak pragmatis dan berorientasi pada akhirat atau kebaikan setelah kemarian mendera. Semoga kita semua terhindar dari penyakit nifak ini. Dan kewajiban menghadirkan politik yang santun dan berorientasi pada kebaikan rakyat dan kemaslahatan bangsa adalah bagian tak terpisahkan dari aktualisasi keimanan seorang muslim yang punya konsekuensi pasti sesudah maut menjemput.

Akhirnya, besar harapan agar ini jadi renungan untuk saudaraku seiman agar nasihat ini meringankan langkah untuk bisa konsisten dalam keimanan dan Keislaman yang lurus, hanif dan bertauhid. Semoga!

About fairuz -

Check Also

Drajad Respon Surat Pendiri PAN

Jakarta, Kopdarnews.com–Politikus senior PAN Dradjad Hari Wibowo membuat surat terbuka kepada pendiri PAN, yang meminta ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *